Friday, February 25, 2011

Berdoalah sebanyak mungkin

Usaha memang sangat berperan dalam keberhasilan seseorang untuk merubah keadaan dirinya, atau meraih harapan dan cita-citanya. Bahakan Allah menegaskan:
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai kaum tersebut merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’du13: 11)
Bersungguh-sungguh adalah suatu hal yang mutlak perlu untuk meraih sukses. Setelah berusaha dan bersungguh-sungguh, lalu apalagi yang harus kita lakukan? Seorang ilmuwan pernah mengatakan:
“Dalam meraih sukses bakat hanya berperan 10% saja, sedangkan 90% lainnya adalah usaha.”
Pengertian usaha sebagaimana di atas memang kita terima, Tapi ilmuwan itu tampaknya lupa bahwa ada faktor penentu lain yang berperan dalam keberhasilan kita di samping usaha yakni ketentuan Allah SWT.
Orang-orang di dunia Barat mendefinisikan hal-hal yang di luar kendali mereka sebagai uncontrolled factors atau faktor X. Jika hal itu positif atau menguntungkan, mereka menyebutnya miracle. Namun sebagai muslim tentunya kita tidak sependapat dengan hal itu. Bukan keajaiban atau faktor X yang ada dan menentukan , melainkan kekuasaan Allah yang mutlak dan tidak terbatas.

Kekuasaan Allah mutlak dan tidak terbatas. Di tangan-Nya langit dan bumi beserta segala isinya. Dalam lingkup kehendak-Nya segala peristiwa yang terjadi di jagat raya ini.

Doa adalah solusi yang tepat atas kelemahan kita sebagai manusia. Doa adalah mata rantai yang tak boleh terlepas dari rangkaian usaha yang akan, sedang, dan telah kita lakukan. Inilah senjata pamungkas bagi orang-orang yang beriman ketika menghadapi perkara apapun dalam kehidupannya.
 Rasulullah saw. bersabda:
“Doa adalah senjata seorang mukmin dan tiang (pilar) agama serta cahaya langit dan bumi” (HR. Abu Ya’la)
Doa adalah lambang ketundukan dan penyerahan diri seorang hamba yang lemah dan tak berdaya, kepada Rabbnya yang Maha Kuasa. Doa juga merupakan simbol pengakuan atas kebesaran Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. 
Rasulullah mengatakan:
“Doa adalah otak (sumsum) ibadah” (HR. At-Tirmizi)
Kalau doa itu otak ibadah, logikanya seseorang yang enggan berdoa berarti ia tidak beribadah kepada Allah. Bahkan Rasulullah memberikan peringatan kepada orang-orang yang tidak pernah berdoa:
“Barang siapa tidak pernah berdoa kepada Allah maka Allah murka kepadanya” (HR. Ahmad)
Doa adalah saluran hubungan diplomatik kita dengan Allah. Melalui doa segala lintasan hati, keinginan, cita-cita, harapan, kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, dan cinta bisa kita sampaikan ke hadirat-Nya. Allah berfirman:
“Dan apabila hamba-hamba Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memnuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah2:186)
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang doa:
Cara berdoa yang baik
- Perlahan-lahan dan diiringi dengan perasaan merendahkan diri kepada Allah. Firman Allah: “Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf7:205).  
- Penuh khusyu’ dan sebaiknya menghadap kiblat
Syarat-syarat terkabulnya suatu Doa
- Diri kita bersih dari makanan yang haram 
“Hai Rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS AL-Mu’minun 23:51)
- Tidak tergesa-gesa
“Selalu diterima doa seseorang asalkan tidak berdoa untuk dosa atau memutuskan hubungan silaturahim, selama tidak tergesa-gesa. Bertanya seseorang: Bagaimankah tergesa-gesa itu, ya Rasulullah?. Jawab Nabi: Ia berkata saya telah berdoa tetapi tidak juga diterima, kemudian menyesal dan tidak berdoa lagi” (HR Muslim)


  
            Saat-saat tepat untuk berdoa:
-  Pada saat sujud:
“Abu Hurairah ra. Berkata: Rasulullah saw. Bersabda: sedekat-dekat hamba kepada Tuhan ketika ia bersujud kepada Tuhan, maka banyak-banyak lah berdoa di dalam sujud itu” (HR Muslim)
- Pada saat shalat malam atau setelah shalat fardhu
“Abu Umamah ra. Berkata: Rasulullah saw. Sitanya: Doa apakah yang lebih didengar oleh Allah? Jawab Nabi: di tengah dan sesudah shalat fardhu” (HR At-Tirmizi)
- Pada saat antara adzan dan qamat
“Doa yang diucapkan antara adzan dan qamat tidak ditolak (olah Allah)” (HR. Ahmad)
-  Pada saat hati sedang tenang
“Ambillah kesempatan berdoa ketika hati sedang tenang dan lembut karena itu adalah rahmat” (HR. Ahmad)

     Orang-orang yang dikabulkan doanya:
-  Doa dari saudara seiman
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak hadir dikabulkan Allah” (HR Ahmad)
- Doa orang yang berpuasa dan doa orang tua kita
Tiga macam doa yang dikabulkan tanpa diragukan lagi, yaitu: orang yang dizhalimi, kedua orang tua, dan doa seorang musafir” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

Jika telah berusaha dan berdoa secara maksimal, itulah yang disebut tawakal. Jadi, tidak ada tawakal tanpa usaha dan doa. Tawakal bukanlah berserah diri begitu saja. Begitu pula dengan kisah berikut ini, ketika Rasul menegur seorang sahabatnya karena begitu saja meninggalkan keledainya tanpa diikat. Nabi bertanya, “Apakah keledainya sudah diikat?”. Sahabat itu menjawab, “Allah akan menjaganya”. Lalu Rasul berkata lagi, “Ikat dulu keledaimu, baru engkau bertawakal”.

Bagaimana jika setelah berdoa dan berusaha dan berdoa kita tetap gagal? Setiap doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Khaliqnya pasti didengar. Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika kita berdoa:
1.       Segera dikabulkan. Ini yang secara subjektif sangat kita harapkan.
2.       Disimpan oleh Allah sebagai tabungan pahala untuk di akhirat nanti.
3.       Doa kita dijadikan Allah sebagai perangkat pelindung kita dari segala marabahaya.
4.       Soal waktu (ditunda sementara oleh Allah).
5.    Mungkin belum/tidak dikabulkan karena hal itu akan berdampak buruk pada kita. Di sinilah seorang muslim diuji kualitas keimanannya.

Marilah kita simak firman Illahi dalam QS Al-Baqarah 2: 216, yang artinya:
“…boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”
Semoga bermanfaat.
Allahu a’lam bishshawab.


(sumber: artikel BIP NF, Antara Usaha dan Doa, 2006)

No comments:

Post a Comment