Tes Potensi Akademik (TPA)
1.TPA juga dapat disebut sebagai Tes Stokastik atau Tes Bakat atau Apttitude Test yaitu suatu tes yang diharapkan dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan bakat akademis seseorang yang diperoleh selama seseorang tersebut menempuh pendidikan formal mulai dari SD s.d PT. Oleh sebab itu peserta TPA minimal berpendidikan Diploma III atau sederajad dari berbagai disiplin ilmu;
2.Kelebihan TPA dibandingkan alat ukur lain dalam seleksi baik seleksi kerja ataupun seleksi masuk pendidikan tinggi yang multidisiplin (MM, Msi, Doktor) adalah kemampuannya dalam mengukur potensi/ bakat akademis tanpa membedakan latar belakang disiplin ilmu seseorang dan netral terhadap persepsi keliru masyarakat tentang kualitas SDM yang diukur dari asal perguruan tinggi, Asal Fakultas eksakta atau non eksakta, dll. TPA dapat menghilangkan sekat-sekat /perbedaan-perbedaan tersebut. Sebagai contoh pendapat sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa seseorang yang berasal dari teknik mesin ITB pasti lebih pinter dan berbakat dibandingkan dengan sastra UI, atau seseorang lulusan Ekonomi UI pasti lebih bermutu dari FE Universitas Nakulo Sadewo di luar Jawa, atau IPK : 2.5 di UGM setara dengan IPK : 3.5 di Universitas Mulawarman (Unmul) pada jenis fakultas yang sama; atau seseorang yang berasal dari Fakultas
1.TPA juga dapat disebut sebagai Tes Stokastik atau Tes Bakat atau Apttitude Test yaitu suatu tes yang diharapkan dapat mengukur dengan tepat kemampuan dan bakat akademis seseorang yang diperoleh selama seseorang tersebut menempuh pendidikan formal mulai dari SD s.d PT. Oleh sebab itu peserta TPA minimal berpendidikan Diploma III atau sederajad dari berbagai disiplin ilmu;
2.Kelebihan TPA dibandingkan alat ukur lain dalam seleksi baik seleksi kerja ataupun seleksi masuk pendidikan tinggi yang multidisiplin (MM, Msi, Doktor) adalah kemampuannya dalam mengukur potensi/ bakat akademis tanpa membedakan latar belakang disiplin ilmu seseorang dan netral terhadap persepsi keliru masyarakat tentang kualitas SDM yang diukur dari asal perguruan tinggi, Asal Fakultas eksakta atau non eksakta, dll. TPA dapat menghilangkan sekat-sekat /perbedaan-perbedaan tersebut. Sebagai contoh pendapat sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa seseorang yang berasal dari teknik mesin ITB pasti lebih pinter dan berbakat dibandingkan dengan sastra UI, atau seseorang lulusan Ekonomi UI pasti lebih bermutu dari FE Universitas Nakulo Sadewo di luar Jawa, atau IPK : 2.5 di UGM setara dengan IPK : 3.5 di Universitas Mulawarman (Unmul) pada jenis fakultas yang sama; atau seseorang yang berasal dari Fakultas
Eksakta pasti lebih pinter dibanding Fakultas Sastra dan Humaniora, dll. Persepsi/anggapan salah tersebut dapat dihilangkan dengan TPA yang mana tidak milihat jurusan/ fakultas, IPK dan Asal PTN. Seseorang yang memiliki skore TPA tinggi disimpulkan memiliki Potensi Akademis tinggi dan sebaliknya;
3.TPA akan menghasilkan angka/ skor/ nilai yang significan dengan kemampuan seseorang apabila calon peserta tersebut telah menempuh pendidikan perguruan tinggi, cukup berlatih dan memahami aturan
main TPA. Semakin banyak berlatih semakin tinggi skore TPA yang diperoleh sebab bakat akan terlihat dengan banyak latihan;
4.Ciri khas dari soal TPA adalah multiple choice dan seandainya ada gambar yang mirip dengan psikotes, maka peserta hanya diwajibkan memilih gambar yang dianggap merupakan jawaban yang tepat (irama gambar) dan bukan aktif menggambar seperti halnya psikotes;
5.TPA pada umumnya dipakai untuk seleksi masuk ke pendidikan tinggi lanjutan misalnya dari D.III ke S1 (program ekstension FE UI, FKM UI, Akamigas, STT Telkom, dll) dan masuk Pascasarjana ( MM, Msi,
Doktor, Program Spesialis Profesi tertentu, dll);
6.Dalam dunia Recruitment Pegawai, TPA biasanya dipakai pada seleksi awal / pendahuluan (tahap I) sesuai jenjang pendidikannya (umumnya kualifikasi sarjana) karena dengan pertimbangan sifat soal yang multiple choice/ pilihan ganda dan computer base akan mempercepat hasil penyaringan (terutama yang dibanjiri pelamar seperti BI, Pertamina, Depkeu-RI, BPK-RI, Total Ind, BRI, Beasiswa Sampoerna, Beasiswa Stuned, Beasiswa Bappenas, PU, dll). Selain itu bakat/ kemampuan akademis langsung dapat terlihat hasilnya dalam waktu relatif singkat;
7.Materi dalam TPA terdiri dari Verbal, Kuantitaif dan Penalaran dengan waktu mengerjakan antara 1 Jam (LPT-UI) s.d 3 jam (OTO- Bappenas);
8.Dengan menerbitkan sertifikasi Skor TPA, maka OTO Bappenas saat ini menjadi tolok ukur kualitas akademis seseorang secara nasional sebab TPA OTO Bappenas digunakan hampir di semua program pascasarjana di perguruan tinggi ternama (PTN di Belanda juga mengakuinya untuk menggantikan skor GMAT);
9.Kemampuan akademis diukur dengan skala angka. Untuk Skor TPA-OTO Bappenas Skor TPA berjalan muali 200 (salah semua) s.d 800 (bila benar semua) dan mean/ rata-rata nasional 500;
Psikotest atau Tes Kepribadian
1.Pada umumnya untuk mengukur kepribadian dan kecenderungan atau kecocokan terhadap bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan kepribadiannya (dinamis/tidak dinamis, inovatif/kurang inovatif, konsisten/kurang konsisten, stabil, leadership, introvet/ekstrovet, dll);
2.Pada umumnya dipakai untuk seleksi pegawai (tidak untuk beasiswa atau masuk pascasarjana) dan untuk promosi jabatan yang membutuhkan kualifikasi tertentu;
3.Soal / materi berupa mengarang, menggambar, menghitung (essai) dan peserta tes aktif mengerjakan gambar (menghubungkan beberapa titik), menghitung dan menjumlah dari atas ke bawah dan sebalinya
(kreplin); sistim dikoreksi hasil tes dikerjakan secara manual tanpa computer dan membutuhkan waktu cukup lama sehingga psikotes biasanya dipakai dalam seleksi pada tahap akhir sebelum tahap wawancara dan tes kesehatan (dimana persta tinggal 10% dari jumlah pelamar keseluruhan);
4.Karena tujuan psikotes antara lain menguji ketahanan berpikir, konsentrasi dan konsistensi maka pada umumnya psikotes dilaksanakan lebih dari 6 Jam (terkadang seharian penuh);
5.Hasil akhir dari psikotes bukan berupa skor seperti halnya TPA, namun berupa rekomendasi dan baiasanya bunyi rekomendasi tersebut dirahasiakan. Kelemahannya tentunya calon peserta bertanya-tanya dimana kekurangan saya sehingga saya tidak diterima/gagal (karena tidak diberitahukan hasilnya kepada peserta).
Sumber: http://pokjarku.blogspot.com/2008/09/beda-tpa-dengan-psikotes.html
3.TPA akan menghasilkan angka/ skor/ nilai yang significan dengan kemampuan seseorang apabila calon peserta tersebut telah menempuh pendidikan perguruan tinggi, cukup berlatih dan memahami aturan
main TPA. Semakin banyak berlatih semakin tinggi skore TPA yang diperoleh sebab bakat akan terlihat dengan banyak latihan;
4.Ciri khas dari soal TPA adalah multiple choice dan seandainya ada gambar yang mirip dengan psikotes, maka peserta hanya diwajibkan memilih gambar yang dianggap merupakan jawaban yang tepat (irama gambar) dan bukan aktif menggambar seperti halnya psikotes;
5.TPA pada umumnya dipakai untuk seleksi masuk ke pendidikan tinggi lanjutan misalnya dari D.III ke S1 (program ekstension FE UI, FKM UI, Akamigas, STT Telkom, dll) dan masuk Pascasarjana ( MM, Msi,
Doktor, Program Spesialis Profesi tertentu, dll);
6.Dalam dunia Recruitment Pegawai, TPA biasanya dipakai pada seleksi awal / pendahuluan (tahap I) sesuai jenjang pendidikannya (umumnya kualifikasi sarjana) karena dengan pertimbangan sifat soal yang multiple choice/ pilihan ganda dan computer base akan mempercepat hasil penyaringan (terutama yang dibanjiri pelamar seperti BI, Pertamina, Depkeu-RI, BPK-RI, Total Ind, BRI, Beasiswa Sampoerna, Beasiswa Stuned, Beasiswa Bappenas, PU, dll). Selain itu bakat/ kemampuan akademis langsung dapat terlihat hasilnya dalam waktu relatif singkat;
7.Materi dalam TPA terdiri dari Verbal, Kuantitaif dan Penalaran dengan waktu mengerjakan antara 1 Jam (LPT-UI) s.d 3 jam (OTO- Bappenas);
8.Dengan menerbitkan sertifikasi Skor TPA, maka OTO Bappenas saat ini menjadi tolok ukur kualitas akademis seseorang secara nasional sebab TPA OTO Bappenas digunakan hampir di semua program pascasarjana di perguruan tinggi ternama (PTN di Belanda juga mengakuinya untuk menggantikan skor GMAT);
9.Kemampuan akademis diukur dengan skala angka. Untuk Skor TPA-OTO Bappenas Skor TPA berjalan muali 200 (salah semua) s.d 800 (bila benar semua) dan mean/ rata-rata nasional 500;
Psikotest atau Tes Kepribadian
1.Pada umumnya untuk mengukur kepribadian dan kecenderungan atau kecocokan terhadap bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan kepribadiannya (dinamis/tidak dinamis, inovatif/kurang inovatif, konsisten/kurang konsisten, stabil, leadership, introvet/ekstrovet, dll);
2.Pada umumnya dipakai untuk seleksi pegawai (tidak untuk beasiswa atau masuk pascasarjana) dan untuk promosi jabatan yang membutuhkan kualifikasi tertentu;
3.Soal / materi berupa mengarang, menggambar, menghitung (essai) dan peserta tes aktif mengerjakan gambar (menghubungkan beberapa titik), menghitung dan menjumlah dari atas ke bawah dan sebalinya
(kreplin); sistim dikoreksi hasil tes dikerjakan secara manual tanpa computer dan membutuhkan waktu cukup lama sehingga psikotes biasanya dipakai dalam seleksi pada tahap akhir sebelum tahap wawancara dan tes kesehatan (dimana persta tinggal 10% dari jumlah pelamar keseluruhan);
4.Karena tujuan psikotes antara lain menguji ketahanan berpikir, konsentrasi dan konsistensi maka pada umumnya psikotes dilaksanakan lebih dari 6 Jam (terkadang seharian penuh);
5.Hasil akhir dari psikotes bukan berupa skor seperti halnya TPA, namun berupa rekomendasi dan baiasanya bunyi rekomendasi tersebut dirahasiakan. Kelemahannya tentunya calon peserta bertanya-tanya dimana kekurangan saya sehingga saya tidak diterima/gagal (karena tidak diberitahukan hasilnya kepada peserta).
Sumber: http://pokjarku.blogspot.com/2008/09/beda-tpa-dengan-psikotes.html
No comments:
Post a Comment